Rekatkan Kebersamaan Bangsa Melalui Budaya dan Kearifan Lokal

Rekatkan Kebersamaan Bangsa Melalui Budaya dan Kearifan Lokal

Rekatkan Kebersamaan Bangsa Melalui Budaya dan Kearifan Lokal

Memupuk rasa kebersamaan bisa dilakukan dengan berbagai cara

, diantaranya dengan memanfaatkan, mendokumentasikan serta mewariskan kebudayaan dan kearifan lokal yang ada kepada generasi penerus bangsa selanjutnya

Hal tersebut senada dengan tajuk yang diusung dalam acara peringatan Dies Natalis ke-49 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, “Nilai-Nilai Pilemburan sebagai Perekat Bangsa, Meneladani Nilai-Nilai Kearifan Lokal.”

Ketua Pelaksana acara ini, Suhendi Afriyanto, menuturkan bahwa nilai-nilai “pilemburan”

ini valuenya itu ada di wilayah-wilayah kearifan, untuk sumber belajar, pun saat diaplikasikan terhadap nilai yang kita ingin bangun.

“Sehingga kita tidak ada alasan untuk tidak menghargai dan meneladani kearifan lokal. Oleh karena itu, tema kita kali ini dikarenakan inti berasal dari masyarakat dan seharusnya juga kembali kepada masyarakat. Paling tidak, dapat terobati ketika masyarakat ada kerinduan pada kearifan lokal yang sesungguhnya sekarang sudah bergeser, idealisnya begitu.” Ungkap Suhendi.

Ia pun menjelaskan, acara yang juga dihadiri Walikota Bandung sebagai keynote speaker

di hari pertama pembukaan ini dimeriahkan dengan berbagai macam rangkaian, mulai dari hari Senin lalu, ada Asian International Conference of Art and Design (AICAD) selama dua hari yang melibatkan berbagai negara seperti Malaysia, Singapura dan lain sebagainya, saat dijumpai disalah satu rangkaian acara, Kamis malam, (5/10).

“Jadi sekalipun kita ingin meneladani nilai-nilai kearifan lokal, kitapun harus merespon perubahan masyarakat. Gak bisa, masyarakat yang sedang berubah gak bisa kita abaikan, inilah yang harus disinergikan antara bagaimana akar itu masih tetap kita pelihara, tapi juga respon perubahan masyarakat pada perubahan yang begitu cepat, kita juga harus ikut andil disitu.” tutur orang yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III ini.

Suhendi berharap dan ingin membuktikan integrasi ini bukan hanya semata slogan belaka, tapi ada aplikasi di dalam kehidupan, dimana harus ada dua sisi yang dilakukan, satu sisi kita harus menghormati dan menghargai tradisi, disisi lainjuga harus merespon modernisasi.

 

Sumber :

https://webmomentofsilence.org/langkah-langkah-dalam-menulis-karangan-deskripsi/