Mendidik Harus dengan Cinta

Mendidik Harus dengan Cinta

Mendidik Harus dengan Cinta

Pendidikan tidak melulu soal akademik, namun yang lebih penting yakni

membentuk karakter dan ahlak. Untuk itu, memberikan pendidikan kasih sayang. Demikian ditegaskan Mentri Agama RI, Lukman Hakim Saefudin dalam sarasehan Nasional penguatan moderasi agama bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se Kota Bekasi.

Bertempat di hotel santika harapan indah, kecamatan Medan Satria Kota Bekasi, sekitar 450 guru PAI dari berbagai daerah hadir dalam kesempatan tersebut. Dalam dialog tersebut, mentri agama menanggapi berbagai pertanyaan dari ratusan guru PAI  yang hadir dan menegaskan bahwa ruh dari seorang guru agama adalah cinta yang ia berikan kepada peserta didiknya.

Dalam dialog tersebut, Lukman Hakim Saefudin mengungkapkan kepada guru PAI

yang hadir bahwa mendidik harus dengan kasih sayang dan cinta. Menurutnya metodologi lebih penting dibandingkan dengan kurikulum, namun kurikulum tidak akan menjadi berarti jika tidak ada guru atau kompetensi guru, selain itu juga kkompetensi yang dimiliki oleh seorang guru tidak akan berarti jika guru yang bersangkutan tidak memiliki ruh sebagai seorang pendidik.

Selain itu, Lukman Hakim Saefudin juga menjabarkan bahwa mendidik harus dengan kasih sayang, sebab agama islam dalah agama yang penuh dengan kasih sayang, untuk itu lanjutnya bahwa guru harus mampu untuk menunjukkan rasa sayang dan cintanya kepada peserta didik.

“Menjewer anak itu ya kadang bisa dilakukan dengan batas-batas yang wajar, artinya tidak sampai melukai. Menjewer itu hanya mendidik agar memahami kesalahan dan mendorong untuk memperbaikinya,“ ungkap Lukman Hhakim  Saefudin kepada seluruh guru PAI yang hadir.

Sementara itu, sebagai moderator, ketua umum asosiasi guru pendidikan agama islam Indonesia (AGPAII), Mahna Marbawi menutup sesi diskusi bersama dengan mentri agama tersebut dengan kesimpulan bahwa ruh dari seorang guru agama adalah cinta kepada seorang murid.

Mahna Marbawi juga meminta kepada seuruh guru PAI untuk menjadi guru PAI

yang otentik, dimana guru tersebut mengajarkan kedamaian, inklusif dan mengajarkan nilai islam wasyatiah serta memiliki pijakan akidah yang kukuh.

“Yaitu guru PAI yang mengajarkan kedamaian, yang mengajarkan inklusif dan nilai islam wasyatiah, dan tetap memiliki pijakan akidah [ribadi yang kukuh dengan tetap memberikan penghargaan terhadap perbedaan dan keragaman,“ tutup Mahna Marbawi.

 

Baca Juga :