Kemajuan Kerajaan Samudera Pasai

Kemajuan Kerajaan Samudera Pasai

Kemajuan Kerajaan Samudera Pasai

Berikut ini terdapat beberapa kemajuan dari kerajaan samudera pasai, antara lain:

  • Kondisi Sosial-Budaya Kerajaan Samudera Pasai

Sebagai kerajaan besar, pada kerajaan Samudera Pasai berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Beberapa masyarakat berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu. Inilah yang kemudian  disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP).

Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Sejalan dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak.

  • Kondisi Politik Kerajaan Samudera Pasai

Sultan pertama kerajaan ini adalah Malik As-Shaleh, lalu di lanjutkan oleh anaknya, yaitu Sultan Muhammad Malik Az-Zhahir, yang pada masa pemerintahannya, Samudera Pasai bisa dikatakan mengalami masa keemasan. Ia berhasil mempersatukan Kerajaan Peurlak dan Samudera Pasai.

Pusat pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai  berada di antara sungai Jambu Air dengan sungai Pasai, Aceh Utara. Dalam struktur pemerintahannya, terdapat istilah menteri, syahbandar, dan Kadi. Anak-anak sultan digelari Tun begitupun dengan petinggi-petingi kerajaan.

Adapun mengenai berita dari China, dijelaskan bahwa abad 13, sekitar tahun 1282 M, Sultan Malik as-Shaleh telah mengirim beberapa utusan ke Quilon, India, dan juga bertemu dengan duta-duta Cina. Diantara nama-nama utusan yang dikirim adalah Husein dan Sulaiman (nama muslim). Dari keterangan tersebut, dapat diketahui Samudera Pasai telah ada sekurang-kurangnya pada tahun 1282 M dan telah melakukan hubungan dengan pihak luar.

Menurut Ibnu Bathutah ketika Ia berkunjung tahun 1346 M ke Sumatera, islam telah disyiarkan sekitar 1 abad lamanya. Di samping itu, Ia juga mengabarkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat keagamaan raja dan rakyatnya, dan juga madzhab yang diyakini, yaitu madzhab Syafi’i.

Saat sultan terkahir memerintah, itulah awal lemahnya Kerajaan Samudera Pasai, ditandai dengan masuknya Portugis yang berkuasa selama 3 tahun. Tahun 1524, kekuasaan pun jatuh kepada kerajaaan Islam lainnya, yaitu Aceh Darussalam. Keruntuhan kerajaan ini juga karena serangan Majapahit dan juga munculnya Kerajaan Melayu di Semenanjung Melayu.

  • Kondisi Ekonomi Kerajaan Samudera Pasai

Basis perekonomian kerajaan ini lebih ke pelayaran dan perdagangan. Ditinjau dari segi geografis, pada saat itu Samudera Pasai merupakan suatu daerah penghubung antara pusat perdagangan di kepulauan Indonesia, dengan India, Cina, dan Arab. Pada kerajaan ini juga telah digunakan mata uang sebagai alat pembayaran yang disebut deureuham (dirham), menandakan bahwa perekonomian kerajaan ini telah makmur.

Dalam sektor dagang, Samudera Pasai mengandalkan lada sebagai produk unggulan yang dicari pedagang-pedagang internasional. Masyarakat pada umumnya sebagai petani yang menanam padi di ladang yang dipanen 2 kali dalam setahun. Mereka juga beternak sapi perah untuk kemudian menghasilkan susu dan keju.

Baca Juga :